Rasulullah bersabda:
مَا
نَحَلَ وَالِدٌ وَلَدَهُ خَيْرًا مِنْ أَدَبٍ حَسَنٍ - رواه الترمذى والحاكم
“Orang tua tidak
memberi anak suatu pemberian yang lebih baik dari pada (memberi) pendidikan
yang bagus” (HR Tirmidzi dan al-Hakim).
Hadits di atas menjelaskan bahwa keluarga adalah lembaga pendidikan yang
paling esensial di samping lembaga sekolah atau lainnya. Diantara tugas mereka
adalah menjaga fitrah anak, menjaga pertumbuhan dan perkembangan sehat anak
dengan tanpa meninggalkan aspek psikologi. Hal ini selaras dengan tujuan
pendidikan nasional pada Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 pasal 3. Namun
realitanya, tidak sedikit anak yang memperoleh
pendidikan dalam suatu lingkungan justru melanggar nilai-nilai agama, sosial
dan norma kesusilaan. Padahal Muhammad Athiah al-Abrosyi (1985) menggaris
bawahi “…tujuan hakiki pendidikan adalah kesempurnaan akhlak”. Hal ini
salah satunya disebabkan oleh pelaksanaan, penerapan serta pendekatan proses
pendidikan kurang atau bahkan tidak memperhatikan perkembangan psikologi anak
didik yang pada hakikatnya berperan dan berpengaruh dalam mendidik anak. Bahkan para psikolog aliran Freudian
berpandangan bahwa manusia ditentukan oleh masa lima tahun pertama dalam
kehidupannya. Pepatah terkenal di dunia islam mengatakan, “Belajar di waktu
kecil bagai melukis di atas batu, sedangkan belajar di waktu besar bagai
melukis di atas air”.
William
James adalah filusuf sekaligus pelopor psikologi dari New York, Amerika yang
paling berpengaruh dan dijuluki “Bapak Pendidikan Psikologi Modern”.
Pemikirannya terhadap pendidikan dan pandangannya terhadap cara kerja pengajar
dapat dilihat pada karyanya Talk to Teacher. Ia menegaskan pentingnya
mempelajari proses belajar dan mengajar di kelas demi meningkatkan mutu
pendidikan. Menurut William, pendidikan lebih cenderung kepada tingkah laku,
kebiasaan dan aksi individu pada lingkungannya. Salah satu rekomendasinya
adalah mulai mengajar pada titik atau sisi yang sesuai dengan kemampuan setiap
anak. Dengan tetap memberikan motivasi; kasih sayang; dukungan; tidak membebani
di luar kapasitas kemampuannya; diberi kesempatan bermain, bercerita dan
bernyanyi; terdapat hari tertentu untuk rest agar tidak monoton. Selain
itu, perlu adanya penyesuaian pendidikan dengan perkembangan psikologi anak meliputi:
periode bayi; balita; SD sampai remaja. Sehingga tidak membuat anak merasa
asing dan tertekan tetapi justru menjadikan anak lebih dapat mengembangkan
keterampilan yang akan mempengaruhi harga dirinya demi mencapai tujuan pendidikan.
Oleh
karena itu, solusi kegagalan yang terkadang dialami sebagian pendidik dalam
mendidik anak menurut ahli psikologi “William James” adalah aplikasi
psikologi khususnya dalam hal pendidikan. Adapun langkah yang tepat untuk
mencapai tujuan pendidikan tersebut yakni dilakukan sejak usia dini dengan cara
memberikan motifasi dan pemahaman tujuan serta dilaksanakan sesuai kemampuan
setiap anak berdasarkan periode perkembangannya.
DAFTAR
PUSTAKA
Ifriqia,
Fartika. “Pendidikan Karakter pada Anak Usia Dini”. Jurnal Keislaman dann Kebudayaan,
1 (Januari, 2012), VI: 88.
Kiling, Beatriks Novianti. “Tinjauan Konsep diri dan Dimensinya
pada Anak dalam Masa Kanak-Kanak Akhir”. Jurnal Psikologi Pendidikan dan
Konseling, 1 (Desember, 2015), II: 116-117.
Syahidin. Menelusuri
Metode Pendidikan dalam Al-Qur’an. Bandung: Alfabeta, 2009.
Syarifuddin,
Ahmad. Mendidik Anak Membaca, Menulis dan Mencintai Al-Quran. Jakarta:
Gema Insani, 2004.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar