Berikut adalah contoh cerita sederhana mengenai perwujudan
perilaku belajar anak: Seorang anak balita kurang lebih berumur satu tahun
sedang merangkak, bermain dan mencari hal-hal baru yang ada di sekitarnya.
Ketika beranjak menghampiri sebuah bola, tiba-tiba dia melihat sebuah handphone
yang sedang bordering tepat di samping bola. Seketika anak tersebut mengambil
handphone tanpa menghiraukan bola, dia lebih memilih sesuatu yang berbunyi dan
bercahaya dibandingnya benda bulat di sampingnya.
Setelah berhasil mendapatkannya, ia
membolak-balikkan handphone tersebut dan mencari tahu sumber cahaya dan suara.
Bahkan ia mencoba memijat tombol handphone. Apa yang terjadi selanjutnya? Anak
tersebut menemukan suatu perbedaan pada layar handphone pada pijatan pertama,
ia melihat tampilan layar handphone yang berubah, dan ketika handphone mulai
redup ia dapat kembali menyalakan layarnya setelah memijatnya. Mungkin kaget
atau heran yang ia rasakan. Setelah mengetahui bahwa handphone akan menyala dan
mengeluarkan bunyi ketika dipijat tombolnya, anak tersebut seketika mengulangi
pijatan berulang kali karena ia ingin lebih banyak lagi tampilan layar dan
suara yang muncul. Namun entah apa yang dipikir olehnya… geregetan, emosi atau
mungkin merasa ingin tahu apa isi handphone tersebut. Seketika dia melemparnya
berulang kali sampai handphone tersebut tidak mampu lagi menghasilkan cahaya
dan suara.
Sehubungan dengan contoh tersebut, Muhibbin Syah
dalam bukunya Psikologi Pendidikan mengatakan bahwa berkat pengalaman belajar
seorang anak akan mampu mencapai pengamatan yang benar objektif sebelum
mencapai suatu pengertian.[1] Hal ini sejalan dengan ungkapan Skinner,
Pavlov dan Guthrie bahwa timbulnya tingkah laku seseorang lantaran adanya
hubungan antara stimulus atau rangsangan dengan respons.[2]
Dalam situasi di atas, tombol handphone merupakan
stimulus, sedangkan rasa ingin tahu adalah motifasi. Kedua unsur tersebut
menimbulkan respons khusus untuk menekan tombol berulang kali dengan penguat (reinforcer)
cahaya dan suara yang muncul dari handphone. Peristiwa seperti ini dalam
psikologi belajar dikenal dengan istilah instrumental conditioning atau operant
conditioning (teori Skinner). Menurut Houston, respons-respons
terhadap stimulus itulah yang disebut instrumental yang berguna untuk
memperoleh sesuatu atau perubahan yang diharapkan.[3]
DAFTAR
PUSTAKA
Syah, Muhibbin. Psikologi Pendidikan. Bandung: PT Remaja
Rosdakarya, 2014.
[1] Muhibbin Syah,
Psikologi Pendidikan (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2014), 117.
[2] Syah, Psikologi
Pendidikan, 88.
[3] Syah, Psikologi
Pendidikan, 91-92.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar