Sabtu, 15 Desember 2018

Perilaku Belajar Anak


Berikut adalah contoh cerita sederhana mengenai perwujudan perilaku belajar anak: Seorang anak balita kurang lebih berumur satu tahun sedang merangkak, bermain dan mencari hal-hal baru yang ada di sekitarnya. Ketika beranjak menghampiri sebuah bola, tiba-tiba dia melihat sebuah handphone yang sedang bordering tepat di samping bola. Seketika anak tersebut mengambil handphone tanpa menghiraukan bola, dia lebih memilih sesuatu yang berbunyi dan bercahaya dibandingnya benda bulat di sampingnya.
Setelah berhasil mendapatkannya, ia membolak-balikkan handphone tersebut dan mencari tahu sumber cahaya dan suara. Bahkan ia mencoba memijat tombol handphone. Apa yang terjadi selanjutnya? Anak tersebut menemukan suatu perbedaan pada layar handphone pada pijatan pertama, ia melihat tampilan layar handphone yang berubah, dan ketika handphone mulai redup ia dapat kembali menyalakan layarnya setelah memijatnya. Mungkin kaget atau heran yang ia rasakan. Setelah mengetahui bahwa handphone akan menyala dan mengeluarkan bunyi ketika dipijat tombolnya, anak tersebut seketika mengulangi pijatan berulang kali karena ia ingin lebih banyak lagi tampilan layar dan suara yang muncul. Namun entah apa yang dipikir olehnya… geregetan, emosi atau mungkin merasa ingin tahu apa isi handphone tersebut. Seketika dia melemparnya berulang kali sampai handphone tersebut tidak mampu lagi menghasilkan cahaya dan suara.
Sehubungan dengan contoh tersebut, Muhibbin Syah dalam bukunya Psikologi Pendidikan mengatakan bahwa berkat pengalaman belajar seorang anak akan mampu mencapai pengamatan yang benar objektif sebelum mencapai suatu pengertian.[1] Hal ini sejalan dengan ungkapan Skinner, Pavlov dan Guthrie bahwa timbulnya tingkah laku seseorang lantaran adanya hubungan antara stimulus atau rangsangan dengan respons.[2]
Dalam situasi di atas, tombol handphone merupakan stimulus, sedangkan rasa ingin tahu adalah motifasi. Kedua unsur tersebut menimbulkan respons khusus untuk menekan tombol berulang kali dengan penguat (reinforcer) cahaya dan suara yang muncul dari handphone. Peristiwa seperti ini dalam psikologi belajar dikenal dengan istilah instrumental conditioning atau operant conditioning (teori Skinner). Menurut Houston, respons-respons terhadap stimulus itulah yang disebut instrumental yang berguna untuk memperoleh sesuatu atau perubahan yang diharapkan.[3]



DAFTAR PUSTAKA

Syah, Muhibbin. Psikologi Pendidikan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2014.




[1] Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2014), 117.
[2] Syah, Psikologi Pendidikan, 88.
[3] Syah, Psikologi Pendidikan, 91-92.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar